Langsung ke konten utama

LITERATUR REVIEW: HUBUNGAN ANTARA SIKAP SLEEP HYGIENE DENGAN DERAJAT INSOMNIA PADA LANSIA DI POLIKLINIK GERIATRI RSUP SANGLAH DENPASAR

LITERATUR REVIEW


 HUBUNGAN ANTARA SIKAP SLEEP HYGIENE DENGAN DERAJAT INSOMNIA
PADA LANSIA DI POLIKLINIK GERIATRI
RSUP SANGLAH DENPASAR

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Literatur Review


 



Oleh
Rini Wahyuni
C1AA16085
`



PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES SUKABUMI
SUKABUMI
2017



    1.      TOPIK
HUBUNGAN ANTARA SIKAP SLEEP HYGIENE DENGAN DERAJAT INSOMNIA PADA LANSIA DI POLIKLINIK GERIATRI RSUP SANGLAH, DENPASAR

    2.      KATA KUNCI
          Sleep Hygiene, Insomnia, Lansia

    3.      SUMBER YANG DIGUNAKAN
    Jurnal penelitian dan jurnal dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI)

    4.      ALASAN PEMILIHAN SUMBER
          a.       Sumbernya jelas.
          b.      Isi jurnal relevan dengan topik
          c.       Merupakan sumber primer.
          d.      Sumber yang dipakai jelas kredibilitasnya
          e.       Sesuai dengan yang dibutuhkan untuk penulisan literature review.
  
     5.      SUMMARY JURNAL

No
Topik
Peneliti
Tahun
Metode
Populasi & Sampel
Hasil
Kesimpulan
1
Hubungan antara Sikap Sleep Hygiene dengan Derajat Insomnia pada Lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah Denpasar
Ni Made Putri Suastari, Pande Nyoman Bayu Tirtayasa, I Gusti Putu Suka Aryana, RA Tuty Kusumawardhani
2014
Metode penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross-sectional.
Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang mengunjungi Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah
dengan sampel sebanyak 43 lansia yang berkunjung ke Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah pada bulan Februari 2014
Penelitian ini memperoleh rerata jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan pada masing-masing derajat insomnia adalah homogen. Berdasarkan uji korelasi diperoleh bahwa terdapat hubungan antara sikap sleep hygiene dengan derajat insomnia pada lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah pada dua komponen, yaitu faktor diet (p=0,006) dan olahraga (p=0,010), sedangkan tidak terdapat hubungan antara sikap sleep hygiene dengan derajat insomnia pada lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah pada dua komponen lainnya, yaitu faktor perilaku (p=0,374) dan lingkungan (p=0,222).
Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara sikap sleep hygiene dengan derajat insomnia pada lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah pada dua komponen sleep hygiene, yaitu faktor diet dan olahraga, sedangkan tidak terdapat hubungan antara sikap sleep hygiene dengan derajat insomnia pada lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah pada dua komponen sleep hygiene lainnya, yaitu faktor perilaku dan lingkungan.
2
Pengaruh Tindakan Higiene Tidur terhadap Insomnia pada Usia Lanjut di RW 08 Sindurejan Kelurahan Patangpuluhan Kecamatan Wirobrajan Yogyakarta
Pratiwi Manunggaling, Dwi Prihatiningsih
2010
Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan Non- Equivalent Control Group, penelitian untuk menilai pengaruh tindakan higiene tidur terhadap insomnia (Notoadmojo, 2002)
Sampel yang digunakan adalah 20 orang usia lanjut  dengan masalah insomnia
Uji statistic Mann-Whitney didapatkan hasil nilai signifikan p=0,000 dengan signifikan p<0,05, maka Ho ditolak dan Hα diterima, ada pengaruh tindakan higiene tidur terhadap insomnia pada usia lanjut.
·    Insomnia sebelum dan sesudah diberi
tindakan higiene tidur pada kelompok
eksperimen yang hasilnya menunjukkan
penurunan insomnia dengan nilai mean
pre test dan post test -9,5.
• Insomnia sebelum dan sesudah pada usia
lanjut pada kelompok kontrol yang
hasilnya menunjukkan sebagian besar
tidak terjadi penurunan dan ada satu
responden yang mengalami peningkatan
+1 dengan nilai mean pre test dan post
test 0,1.
Hal ini membuktikan ada pengaruh tindakan
higiene tidur terhadap insomnia pada usia
lanjut di RW 08 Sindurejan Kelurahan
Patangpuluhan Kecamatan Wirobrajan,
Yogyakarta 2010.

3
Hubungan antara Sleep Hygiene dengan
Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti
Sosial Tresna Werdha Yogyakarta
Unit Abiyoso Pakembinangun
Pakem Sleman

Septiana Rahmah, Syaifudin

2014
Jenis penelitian ini merupakan penelitian Non-Eksperimen yang
termasuk dalam studi korelasi (Hubungan/Asosiasi) dan metode pendekatan waktu  yang digunakan adalah Cross Sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang tercatat di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta
Unit Abiyoso Pakembinangun Pakem Sleman dengan jumlah 126 lansia. Sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 56 lansia.

Hasil penelitian menunjukkan nilai chi square sebesar 56,000 dan  sig (p) sebesar 0,000. Nilai sig. (p) = 0,000 lebih kecil dari 0,05 sehingga terdapat
hubungan antara sleep hygiene dengan kualitas tidur pada Lanjut Usia di Panti  Sosial Tresna Werdha Yogyakarta
Unit Abiyoso Pakembinangun Pakem Sleman.

Semakin rendah prilaku sleep hygiene maka akan semakin buruk  kualitas tidur pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit
Abiyoso pakembinangun Pakem Sleman.
4
Sleep Duration, Sleep Hygiene, and Insomnia
in Adolescents with Asthma
Lisa J. Meltzer, PhD, Maureen Ullrich, MD, and Stanley J. Szefler, MD
2014
Remaja dengan dan tanpa asma
direkrut dengan menggunakan panel penelitian online nasional dengan sekitar 3 juta anggota (ZoomPanel; SurveyMonkey,
Palo Alto, CA) yang telah ikut serta dalam survei. Pada bulan September 2012, sekitar 2600
Anggota menerima undangan e-mail untuk berpartisipasi dalam penelitian ini,
dengan 1532 (sekitar 59%) menanggapi dan melihat
Survei ini.
Peserta adalah 298 remaja usia 12 sampai 17 tahun, (51%
Anak laki-laki; 48% dengan asma).
Durasi tidur tidak berbeda antara
Kelompok keparahan asma, namun lebih banyak remaja dengan asma berat dilaporkan
Kurang tidur pada hari kerja (44%) dibandingkan remaja tanpa
Asma (31%).
Variabel kebersihan tidur itu berkorelasi dengan insomnia, meskipun asosiasi ini tidak
berbeda antara remaja dengan dan tanpa asma berat.
Akhirnya, tingkat keparahan insomnia dan tingkat keparahan asma
adalah prediktor signifikan terhadap kantuk di siang hari; Namun, tingkat keparahan asma hanya menyumbang 2% dari varians dibandingkan dengan 28% varians yang dicatat oleh tingkat keparahan insomnia.
Banyak remaja penderita asma berat secara teratur mendapatkan cukup tidur, memiliki kebersihan tidur yang buruk, dan
mengalami insomnia yang signifikan secara klinis. Penting untuk bertanya
kepada remaja dengan asma tentang durasi tidur, kebersihan tidur, dan
Insomnia karena ada intervensi yang efektif yang bisa
memperbaiki kualitas tidur untuk para remaja ini.


6.      LITERATUR REVIEW

A.      Insomnia
1.        Pengertian Insomnia
Menurut Stanley (2006) dalam Manunggaling (2010), insomnia adalah ketidakmampuan  untuk tidur walaupun ada keinginan untuk  melakukannya. Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur (Purwanto, 2007). Sedangkan menurut Suastari, dkk (2014), insomnia merupakan sebuah gejala dari suatu penyakit tertentu. Sebesar 60-75% merupakan insomnia sekunder yang disebabkan oleh gangguan kesehatan fisik, mental, lingkungan, atau penggunaan obat-obatan (Karl Doghramji, 2006 dan R. Galimi, 2010). Jadi terjadinya kejadian insomnia merupakan manifestasi dari suatu penyakit yang menyerang diri kita. Contohnya seperti yang tertuang dalam jurnal Sleep Duration, Sleep Hygiene, and Insomnia in Adolescents with Asthma, hasil penelitian dari Lisa J. Meltzer, dkk (2014),  yang menyatakan bahwa tingkat keparahan insomnia dan tingkat keparahan asma adalah prediktor signifikan terhadap kantuk di siang hari; Namun, tingkat keparahan asma hanya menyumbang 2% dari varians dibandingkan dengan 28% varians yang dicatat oleh tingkat keparahan insomnia.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa insomnia adalah suatu gangguan yang dialami oleh individu, dimana individu tersebut mengalami kesulitan untuk tidur.
2.        Gejala Insomnia
            Tsou (2013) mendapatkan bahwa lansia dengan insomnia mengeluh rasa kantuk yang berlebihan di siang hari sehingga tubuh terasa lemah terutama pada ekstremitas, kelelahan, rasa tidak nyaman, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan gangguan aktivitas. Insomnia juga mempengaruhi fungsi kognitif lansia meliputi gangguan perhatian dan konsentrasi, penurunan kemampuan mengingat, dan kesulitan berorientasi.
3.        Prevalensi Insomnia
            Prevalensi insomnia meningkat dengan bertambahnya usia, dimana pada usia 30  tahun terdapat 5 % laki-laki dan 15 %  perempuan dan pada usia 70 tahun terdapat 15 % laki-laki dan 25% perempuan (Purnomo, 2006). Insomnia lebih sering ditemukan pada perempuan dan pada kelompok lansia (Lumbantobing, 2004). Menurut Suastari, dkk (2014), disebutkan bahwa di dunia, angka prevalensi insomnia pada lansia diperkirakan sebesar 13-47% dengan proporsi sekitar 50-70% terjadi pada usia diatas 65 tahun (Karl Doghramji, 2006 dan MT. Tsou, 2013). Sebuah penelitian Aging Multicenter melaporkan bahwa sebesar 42% dari 9.000 lansia yang berusia diatas 65 tahun mengalami gejala insomnia (MT. Tsou, 2013 dan Roepke SK & Ancoli-Israel S, 2010). Di Indonesia, angka prevalensi insomnia pada lansia sekitar 67%. Namun sayangnya hanya satu dari delapan penderita insomnia yang diketahui karena mencari pengobatan ke dokter (Zainul Anwar, 2010).

4.        Dampak Insomnia
Dampak insomnia cukup besar, yaitu rasa lelah, berkurangnya energi, kesulitan berkonsentrasi dan iritabel selain itu juga menyebabkan gangguan mood, penyesuaian sosial dan kelelahan berat sehingga dapat mengakibatkan kecelakaan pada waktu kerja (Lumbantobing, 2004). Disamping itu, penelitian Sivertsen (2006) menyatakan bahwa insomnia pada lansia berhubungan dengan penurunan produktivitas dan sosial ekonomi. Hal ini menyebabkan kapasitas kerja menurun, ketidakpuasan dalam bekerja, meningkatnya level stress kerja, dan sering absen kerja karena sakit. Jadi dengan kata lain orang yang menderita insomnia kurang produktif dalam hidupnya.  
Selain itu, lansia dengan insomnia akan memiliki kemampuan bereaksi yang lebih lambat dan gangguan keseimbangan yang merupakan faktor risiko terbesar untuk terjatuh. Sebuah penelitian menyatakan bahwa insomnia meningkatkan risiko lansia untuk terjatuh sebesar 2,5- 4,5 kali. Di Amerika Serikat, insomnia mengakibatkan sekitar 80 juta lansia sering mengalami jatuh atau kecelakaan yang berhubungan pula dengan peningkatan biaya pengobatan dan perawatan, yaitu sebesar 100 juta dolar per tahun. Durasi tidur yang kurang dari enam jam atau lebih dari sembilan jam per hari memiliki angka prevalensi penyakit tidak menular, seperti kanker dan jantung serta kematian yang lebih tinggi dibandingkan durasi tidur tujuh sampai delapam jam per hari. Hal tersebut memperlihatkan bahwa insomnia memiliki kecenderungan terhadap peningkatan angka morbiditas dan mortalitas pada lansia.
5.        Pengobatan Insomnia
        Menurut Suastari, dkk (2014), pengobatan farmakologis seperti golongan hipnotik sedatif dapat diberikan berdasarkan indikasi klinis. Namun dalam penggunaan jangka panjang, pengobatan ini tidak dianjurkan sebab memiliki efek samping yang berbahaya. Penelitian Glass et al (2005) menyatakan bahwa golongan hipnotik sedatif meningkatkan risiko ataxia, gangguan kognitif, dan jatuh pada lansia. Diperlukan metode dalam penatalaksanaan insomnia pada lansia melalui pendekatan terapi nonfarmakologis dan hanya menggunakan obat-obatan pada saat yang mendesak. Terapi nonfarmakologis yang paling efektif untuk mengatasi insomnia adalah terapi perilaku, yaitu sleep hygiene.

B.            Sleep Hygiene
1.             Pengertian Sleep Hygiene
Menurut Suastari, dkk (2014), terapi nonfarmakologis yang paling efektif untuk mengatasi insomnia adalah terapi perilaku, yaitu sleep hygiene. Sleep hygiene merupakan identifikasi dan modifikasi perilaku dan lingkungan yang mempengaruhi tidur (Roepke SK & Ancoli-Israel S, 2010). Sedangkan menurut Rahmah & Syaifudin (2014), “sleep hygiene merupakan suatu latihan atau kebiasaan yang dapat mempengaruhi tidur. Sebagaimana dijelaskan bahwa “higiene tidur merupakan suatu manipulasi lingkungan yang dapat digunakan dalam mengatasi insomnia dengan cara mengatur jadwal tidur seseorang secara teratur.”  Manipulasi lingkungan merupakan suatu pendekatan yang terbaik dalam mengatasi masalah insomnia pada usia lanjut (Depkes, 2006). Perbaikan sleep hygiene pada usia lanjut merupakan cara yang sederhana namun efektif dalam meningkatkan kualitas tidur (Puspitosari, 2008).  Penelitian LeBourgeois et al (2005) menyatakan bahwa sleep hygiene berperan penting terhadap kualitas tidur sehingga kebiasaan tidur menjadi lebih baik.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sleep hygiene merupakan tindakan-tindakan yang dapat kita lakukan sebelum tidur guna membantu kita mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.

2.        Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sleep Hygiene
Faktor-faktor yang mempengaruhi sleep hygiene seseorang antara lain jadwal tidur-bangun, lingkungan (suara gaduh, temperatur, termasuk kebiasaan selain tidur yang dilakukan oleh lansia di tempat tidur), diet dan penggunaan obat-obatan, serta hal-hal umum meliputi kecemasan dan aktivitas di siang hari (Amir, 2007). Hasil penelitian dari Rahmah & Syaifudin (2014) di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Abiyoso Pakembinangun Pakem Sleman menyimpulkan bahwa semakin rendah perilaku sleep hygiene maka akan semakin buruk pula kualitas tidur pada lanjut usia.

3.        Sikap Sleep Hygiene
            Menurut Suastari, dkk (2014),  sikap sleep hygiene adalah sikap yang dapat menyebabkan tidur lansia menjadi lebih nyenyak dengan melalui perubahan perilaku, lingkungan, diet dan olahraga antara lain:
            a.   Perilaku
          1)      Memiliki jadwal bangun dan tidur yang teratur setiap hari.
          2)      Membuat pikiran dan tubuh menjadi tenang dan relaks.
          3)      Berada di tempat tidur hanya saat tidur dan mengantuk.
          4)      Tidur siang kurang dari 30 menit
            b.        Lingkungan
          1)      Tidur dengan pencahayaan gelap.
          2)      Temperatur kamar tidur nyaman.
          3)      Menghindari suara ribut.
          4)      Membersihkan kamar tidur secara teratur.
             c.         Diet
          1)      Makan secara teratur setiap hari.
          2)      Tidak makan terlalu banyak sebelum tidur.
          3)      Tidak minum kopi atau kafein sebelum tidur.    
          4)      Tidak minum alkohol sebelum tidur.
          5)      Tidak merokok sebelum tidur.        
             d.        Olahraga
        Berolahraga secara teratur selama 20-30 menit sebanyak 3-4 kali seminggu.

4.        Manfaat Sleep Hygiene
            Menurut Potter & Perry (2006) dalam Manunggaling (2010), “Perilaku  tindakan higiene tidur yang tepat bermanfaat untuk  membuat pola tidur yang tepat sehingga pola tidur baik dan tidak memerlukan penggunaan obat.” Perilaku sleep hygiene yang baik dapat mencegah berkembangnya gangguan dan masalah tidur. Hal itu berarti perilaku sleep hygiene yang baik dapat membantu seseorang dalam memiliki kualitas tidur yang baik pula. Gangguan-gangguan tidur dan tidur pada siang hari menandakan bahwa seseorang mempunyai sleep hygiene yang buruk. Perilaku sleep hygiene yang buruk pada lansia misalnya lansia sering menghabiskan lebih banyak waktunya di tempat tidur atau sebentar-bentar tertidur di siang hari lebih banyak terjaga di malam hari (Amir, 2007).

C.      Lansia
1.        Jumlah Penduduk Lansia
Menurut jurnal yang diteliti oleh Septiana Rahmah, Syaifudin (2014) disebutkan bahwa: Kemajuan di bidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi masyarakat dan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat yang bermuara dengan meningkatnya pada kesejahteraan rakyat akan meningkatnya usia harapan hidup (Anonim 1, 2012). Berdasarkan data dari lembaga kesehatan dunia (WHO) menyebutkan bahwa apabila tahun 2010 angka harapan hidup usia diatas 60 tahun mencapai 20,7 juta orang kemudian naik menjadi 36 juta orang. Kenaikan tersebut diprediksi akan terus bertambah hingga mencapai 71 juta orang pada tahun 2050 (Sugandi, 2012). Sedangkan menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 angka harapan hidup perempuan adalah 74 tahun, sedangkan laki-laki adalah 51 tahun (Harnowo, 2012). Penduduk lanjut usia beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang signifikan. Tahun 2007, jumlah penduduk lanjut usia sebesar 18,96 juta jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 juta jiwa pada tahun 2009. Jumlah lansia di Indonesia termasuk tersbesar keempat setelah Cina, India, dan Jepang. Usia harapan hidup perempuan lebih panjang dibandingkan laki-laki, maka penduduk lanjut usia perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki 11,29 juta jiwa berbanding 9,26 juta jiwa. Permasalahan lanjut usia secara umum di Indonesia didominasi oleh perempuan (Badan Pusat Statistik, 2010). 
2.        Perubahan yang Terjadi pada Lansia
Menurut Suastari, dkk (2014), penuaan merupakan suatu proses alamiah yang akan dialami oleh setiap manusia. Dalam proses ini terjadi penurunan fisik, psikologis maupun sosial kehidupan orang lanjut usia (lansia) sehingga dapat menyebabkan ketergantungan kepada orang lain (Zainul Anwar, 2010). Salah satu perubahan yang terjadi pada lansia adalah kebutuhan tidur yang akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Kebutuhan tidur pada usia dua belas tahun adalah sembilan jam, usia dua puluh tahun berkurang menjadi delapan jam, usia empat puluh tahun sebanyak tujuh jam, usia enam puluh tahun sebesar enam setengah jam, dan usia delapan puluh tahun adalah enam jam. Secara fisiologis pada struktur tidur lansia, terjadi peningkatan fase terjaga dan penurunan fase tidur mendalam sehingga jumlah tidur lansia menjadi berkurang (A. Prayitno, 2004). Kondisi ini cenderung mengakibatkan permasalahan kesehatan secara fisik ataupun kesehatan mental atau jiwa (Zainul Anwar, 2010 dan Tommy Kurniawan, 2012).


D.      Hubungan Antara Sikap Sleep Hygiene dengan Derajat Insomnia pada Lansia
            Menurut Suastari, dkk (2014), berdasarkan uji korelasi diperoleh bahwa terdapat hubungan antara sikap sleep hygiene dengan derajat insomnia pada lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah pada dua komponen, yaitu faktor diet (p=0,006) dan olahraga (p=0,010), sedangkan tidak terdapat hubungan antara sikap sleep hygiene dengan derajat insomnia pada lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah pada dua komponen lainnya, yaitu faktor perilaku (p=0,374) dan lingkungan (p=0,222).  Sedangkan menurut Manunggaling (2010), berdasarkan penelitian yang dilakukan di RW 08 Sindurejan Kelurahan Patangpuluhan Kecamatan Wirobrajan, penderita Insomnia sebelum dan sesudah diberi tindakan higiene tidur pada kelompok eksperimen hasilnya menunjukkan ada penurunan insomnia dengan nilai mean pre test dan post test -9,5. Penderita Insomnia usia lanjut sebelum dan sesudah diberikan tindakan higiene tidur pada kelompok kontrol yang hasilnya menunjukkan sebagian besar tidak terjadi penurunan dan ada satu responden yang mengalami peningkatan +1 dengan nilai mean pre test dan post test 0,1. Sedangkan melalui Uji statistic Mann-Whitney didapatkan hasil nilai signifikan p=0,000 dengan signifikan p<0,05, maka Ho ditolak dan Hα diterima, hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh tindakan higiene tidur terhadap penderita insomnia pada usia lanjut. Didukung hasil penelitian yang dilakukan di Panti  Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Abiyoso Pakembinangun Pakem Sleman dengan sampel yaitu 56 orang lansia lansia oleh Septiana Rahmah dan Syaifudin (2014),  hasil penelitian menunjukkan nilai chi square sebesar 56,000 dan  sig (p) sebesar 0,000. Nilai sig. (p) = 0,000 lebih kecil dari 0,05 sehingga terdapat hubungan antara sleep hygiene dengan kualitas tidur pada lanjut usia, selanjutnya dijelaskan bahwa semakin rendah perilaku sleep hygiene maka akan semakin buruk  kualitas tidur pada lanjut usia. Sudah dijelaskan di atas bahwa insomnia merupakan sebuah gejala dari suatu penyakit tertentu. Dalam jurnal Sleep Duration, Sleep Hygiene, and Insomniain Adolescents with Asthma yang diteliti oleh Lisa J. Meltzer,dkk (2014),  yang menyatakan bahwa variabel kebersihan tidur itu berkorelasi dengan insomnia, meskipun asosiasinya tidak berbeda antara remaja dengan dan tanpa asma berat. Tingkat keparahan insomnia dan tingkat keparahan asma adalah prediktor signifikan terhadap kantuk di siang hari; Namun, tingkat keparahan asma hanya menyumbang 2% dari varians dibandingkan dengan 28% varians yang dicatat oleh tingkat keparahan insomnia.
           Jadi, dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap sleep hygiene memiliki pengaruh terhadap terjadinya insomnia.






DAFTAR PUSTAKA

Manunggaling, Pratiwi, Dwi Prihatiningsih. 2010. Pengaruh Tindakan Higiene Tidur         terhadap
       Insomnia pada Usia Lanjut di RW 08 Sindurejan Kelurahan    Patangpuluhan Kecamatan
       Wirobrajan Yogyakarta.
Yogyakarta: Program Studi    Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
       Kesehatan ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Meltzer, Lisa J, PhD, Maureen Ullrich, MD, and Stanley J. Szefler, MD. 2014. Sleep         Duration,
       Sleep Hygiene, and Insomnia in Adolescents with Asthma.
American         Academy of Allergy,
       Asthma & Immunology.
Rahmah, Septiana, Syaifudin. 2014. Hubungan antara Sleep Hygiene dengan Kualitas      Tidur pada
       Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Abiyoso
         Pakembinangun
       Pakem Sleman
. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Keperawatan         Sekolah Tinggi Ilmu
       Kesehatan ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Suastari, Ni Made Putri, Pande Nyoman Bayu Tirtayasa, I Gusti Putu Suka Aryana, RA   Tuty
       Kusumawardhani. 2014. Hubungan antara Sikap Sleep Hygiene dengan     Derajat Insomnia
       pada Lansia di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah Denpasar.            
Denpasar:
Fakultas
      Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyebab Masalah dalam Hidup

PENYEBAB MASALAH DALAM HIDUP MASALAH             Sering banget kan ya kita mendengar kata tersebut, baik di rumah, di kampus, di kantor, ataupun dimana pun. Setiap orang yang hidup pasti pernah mempunya masalah. Masalah selalu ada di sekeliling kita. Jadi apa sih masalah itu? Menurut aku pribadi sih, masalah itu bisa diartikan sebagai suatu keadaan dimana keadaan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.  Sering kali ketika masalah datang, kita selalu menyalahkan orang lain. Menyalahkan keadan, bahkan yang paling parahnya lagi kita selalu menyalahkan Allah SWT terhadap masalah yang menerpa kita. Padahal penyebab masalah dalam hidup kita itu adalah diri kita sendiri loh...  Ga percaya? Di sini aku akan membahas kajian dari salah seorang ustadz yang sangat digandrungi oleh kaula muda, termasuk aku. Dimana kajian-kajiannya, ceramah-ceramahnya tersebut yang sangat menarik dari segi tema dan cara penyampainnya...
THE   SEVEN HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE       Stephen R. Covey adala h seorang penulis buku “The Seven Habits of Highly Effective People”. Sungguh buku karyanya ini sangat menginspirasi, dan membuat diri ini ingin dan makin ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Tentu saja saat kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik, kita perlu membiasakan diri dengan hal-hal yang bisa memotivasi kita, memberi pelajaran kepada kita, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang kita inginkan tersebut. Kebiasaan adalah faktor penting disini, tujuh kebiasaan efektif yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey memang terlihat mudah untuk dimengerti, tetapi tidak mudah untuk dilakukan, butuh komitmen yang kuat agar kita bisa melakukan satu demi satu dari ke tujuh kebiasaan efektif tersebut. Setelah saya membaca buku ini dan mencoba memahaminya, berikut ini merupakan hal yang saya sudah dan akan lakukan dari   “The Seven Habits of Highly Effective P...